Sangpencerah.web.id | MAKASSAR,-- Waktu kian bergulir, kembali kulirik jam di handphone sudah menunjukkan pukul 13.00 WITA, namun tak kujung juga om atau kakak keluar dari ruang IGD.
Kusandarkan tubuhku di kursi tunggu, kepala terasa berat dan suasana kapal yang masih terasa di alam bawah sadar, sangat tidak nyaman.
Selang beberapa menit kemudian, kakak keluar dari IGD. Segera aku menggantikan nya melihat keadaan tante di dalam.
Seketika mataku takjub melihat luasnya ruangan dan fasilitas yang tersedia. Mataku menyapu seluruh sudut ruangan, berjejer orang-orang sakit yang terbaring di dalam ruang, menunggu ditangani dan segera mendapatkan kamar perawatan.
Pandanganku terhenti pada satu emergency bad di barisan ke 4 dari pintu. Tante yang sedang di tangani oleh seorang dokter atau perawat sulit membedakannya, tapi aku lebih ingin menyebutnya dokter, meskipun itu perawat.
Perawakan khas Timur membuat aku selalu takjub dengan keramahan, dan kelembutannya melayani pasien begitu juga perawat dan dokter yang lain pun tak kalah ramahnya.
Tak lama setelahnya tante sudah di masukkan ke ruang isolasi. Satu dua tiga dokter bergantian memeriksa kondisi dan mengambil sample darahnya untuk di cek.
Ditengah penanganan itu, aku kembali teringat ucapan salah satu keluarga yang pernah menjenguk tante. Ia mengatakan bahwa ketika ia di rujuk ke Rumah Sakit Wahidin, ia menghabiskan waktu berbulan-bulan hanya karena penanganan yang lambat dan menunggu mendapatkan ruangan perawatan yang kosong.
Ia juga menambahkan bahwa orang yang berobat ke sini haruslah memiliki kesabaran dan mental yang besar. Perkataannya itu sukses membuat aku khawatir jikalau tante juga akan merasakan hal yang sama.
Ku lirik kembali jam sudah menunjukkan pukul 14:00 WITA, bergegas aku mencari Masjid terdekat yang ada di Rumah Sakit di temani kakak untuk melaksanakan sholat dzuhur yang sejak tadi tertunda.
Tak lama setelah sholat, dering telpon kakak yang sejak tadi menunggu diluar, berbunyi. Ia mengatakan tak bisa menunggu lebih lama lagi karena harus segera mengambil obat. Akhirnya aku memilih ditinggalkan dan pulang sendiri nanti karena masih ingin lebih lama di Masjid itu.
Rasa lelah dan kantuk membuatku sejenak membaringkan tubuhku. Tak ada daya, sejuk dan tenangnya Masjid membuat aku terlelap di alam bawah sadar.
Dering telpon kakak kembali bergetar. Ia memintaku untuk segera kembali karena tante sudah akan di antar menuju ruang perawatan. Sontak aku terbangun dengan perasaan senang, karena tak perlu menunggu berbulan-bulan untuk mendapatkan ruang perawatan seperti yang diceritakan itu.
Aku bergegas kembali menuju ruangan tempat om istirahat untuk mengemasi barang-barang. Namun siapa sangka dalam perjalanan itu aku malah kebingungan memilih jalan yang berbelok-belok.
Entah karena aku terlalu senang atau lelah hingga tidak sempat membaca petunjuk yang ada di atas dan hanya terus berjalan, sampai akhirnya aku berada disebuah tempat yang tampaknya parkiran mobil.
Kulihat seorang satpam berpostur agak gemuk dengan perut sedikit buncit berjalan kearahku. "pak ini arah ke IGD dimana yah? saya tadi dari Masjid, lupa belok kemana tiba-tiba malah disini". tanyaku dengan sedikit malu.
"Oh IGD yang mana yah mba?" tanyanya kembali. Dalam hati aku bertanya-tanya memangnya ada berapa IGD yang ada di Rumah Sakit ini? di Selayar kan hanya satu, lalu tadi aku di IGD mana yah?..
Karena tidak tau harus bilang apa, akhirnya aku katakan, "Begini pak saya baru sampai, keluarga pasien rujukan dari Selayar,.. saya tidak tau tadi di IGD mana saya lupa pak", Kataku berusaha menjelaskan dengan pertanyaan terselubung, harap-harap ia mengerti.
Lalu ia pun menjawab, "oh iya mba berarti di IGD sana mari saya antar". Ajaknya dengan ramah.
Merasa lega karena ia mengerti, akhirnya aku mengikuti dari belakang. Sepanjang perjalanan itu, satpam bertanya banyak hal mulai dari Siapa yang sakit, hingga membahas kedatangan kami dengan cuaca yang ekstrim dari perairan Selatan, Selayar.
Sesampainya di IGD akhirnya kami berpisah, tak lupa kuucapkan terimakasih, hingga ia berlalu.
Dalam hati, aku menertawakan diriku sendiri, bagaimana tidak.. aku seperti anak SD yang terpisah dari orang tua, dan tak tau jalan kembali, padahal usiaku sudah menginjak 20 tahun.
Sedikit saja aku tidak bertanya, maka nasibku sudah berputar-putar di sekeliling Rumah Sakit yang luas ini. Untung saja aku orangnya tidak mau cape dan ribet, memilih alternatif satpam untuk mengantarku kembali, urusan malu belakangan.
Pelajaran Kedua, jika kau tersesat jangan lanjutkan berjalan.. pergunakan rasa tak ingin lelah dan ribetmu itu untuk bertanya pada siapapun yang kau temui..jika beruntung, kamu diantar..jika tidak, setidaknya ia memberitahu arah yang benar. Dan satu lagi, budayakan membaca hehehe...
Melihat semua yang ada di Rumah Sakit ini, memanglah sangat jauh bedanya dengan Rumah Sakit yang ada di Selayar. Kualitas pelayanan, fasilitas, dokter dan perawat, semuanya.
Aku berharap apa yang ada disini, bisa ada juga di Selayar. Sehingga tidak ada lagi yang perlu jauh-jauh bertaruh nyawa dengan cuaca yang ekstrim demi mendapatkan pengobatan yang maksimal. Sampai sini saja dulu, Nanti kita cerita lagi yah. Bersambung....
(W/Sitti Nur Jannah)